Pages

    11 December 2010

    oRANG yANG bERSELIMUT ( bhgn 1 )

    Assalamualaykum.....salam sejahtera

    jom kita menghayati tafsiran surah hafalan untuk minggu ini, semoga sama-sama mendapat kebaikan dan kefahaman. tapi, maaf tafsiran dalam versi indon ( lebih kurang melayu je )...mudah-mudahan dirahmati Allah.




    1. Wahai orang yang berselimut!

    Ibnu `Abbas berkata: Awal mula Jibril datang di gua Hira', Nabi Muhammad SAW takut kepadanyadan Nabi menyangka bahwa dirinya kemasukan jin. Maka dalam keadaan gemetar Nabi Muhammad SAW pulang meninggalkan gua Hira'. Setiba di rumah beliau berkata "Selimutilah aku, selimutilah aku". Sedang Nabi dalam keadaan berselimut Jibril pun datang kepadanya dengan menyampaikan ayat-ayat ini.

    (Hai orang yang berselimut) yakni Nabi Muhammad. Asal kata al-muzzammil ialah al-mutazammil,kemudian huruf ta diidghamkan kepada huruf za sehingga jadilah al-muzzammil, artinya, orang yang menyelimuti dirinya dengan pakaian sewaktu wahyu datang kepadanya karena merasa takut akan kehebatan wahyu itu.


    2. Bangunlah di malam hari, kecuali sedikit.

    Allah memerintahkan Nabi-Nya yang sedang berselimut supaya mendirikan salat malam seluruhnya atau sebagiannya. Seruan Allah kepada Nabi Muhammad SAW didahului dengan kata-kata "Hai orang yang berselimut".


    3.Satu perduanya atau kurangilah daripadanya sedikit.

    Allah menerangkan dengan perkataan sebagian, yaitu berupa separuh atau lebih. Jelasnya Allah menyerahkan kepada Nabi Muhammad SAW untuk memilih waktu melakukan salat malam. Ia dapat memilih antara sepertiga. seperdua dan dua pertiga malam. Maka Allah memberi kebebasan kepada Muhammad SAW untuk memilih waktu-waktu tersebut. Yang dimaksud dengan sepertiga malam menurut waktu Indonesia ialah kira-kira antara jam 10 dan jam 11 malam, seperdua malam ialah waktu antara jam 12 dan 1 malam dan dua pertiga malam ialah waktu antara jam 2 dan 3 sampai sebelum fajar.

    (Yaitu seperduanya) menjadi badal dari lafal qaliilan; pengertian sedikit ini bila dibandingkan dengan keseluruhan waktu malam hari (atau kurangilah daripadanya) dari seperdua itu (sedikit) hingga mencapai sepertiganya.


    4. Atau lebih daripadanya. Dan bacalah al-Qur’an itu dengan perlahan- lahan.

    Dalam ayat ini Allah memerintahkan Nabi Muhammad saw supaya membaca Alquran secara saksama (tartil), ialah membaca Alquran dengan pelan-pelan dengan bacaan yang fasih serta merasakan arti dan maksud dari ayat-ayat yang dibaca itu, sehingga berkesan di hati. Perintah ini dilaksanakan oleh Nabi SAW. Dari Siti `Aisyah beliau meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW membaca Alquran dengan tartil, sehingga surah yang dibacanya menjadi lebih lama dari ia membaca biasa.
    Dalam hubungan ayat ini Abdullah bin Mugfil berkata:

    Artinya:
    "Aku melihat Rasulullah SAW pada hari penaklukan kota Mekah, sedang menunggang unta, beliau membaca surah Al Fath di mana bacaan itu beliau melakukan tarji' (bacaan lambat dengan merasakan artinya).
    (H.R. Bukhari dan Muslim)


    Pengarang buku Fathul Bayan berkata: Yang dimaksud dengan pengertian tartil ialah kehadiran hati ketika membaca dan tidaklah yang dimaksud itu asalkan mengeluarkan bunyi dari tenggorokan dengan memoncong-moncongkan muka dan mulut dengan alunan lagu, sebagaimana kebiasaan yang dilakukan pembaca-pembaca Alquran zaman sekarang baik di Mesir maupun di Mekah dan sebagainya. Membaca yang seperti itu adalah suatu bacaan yang dilakukan orang-orang yang tidak mengerti agama".
    Membaca Alquran secara tartil mengandung hikmah yaitu terbukanya kesempatan untuk memperhatikan isi ayat-ayat yang dibaca dan di waktu menyebut nama Allah si pembaca akan merasa kemahaagungan-Nya. Ketika tiba pada ayat yang mengandung janji, pembaca akan timbul harapan-harapan, demikian juga ketika membaca ayat ancaman, pembaca akan merasa cemas.
    Sebaliknya yakni membaca Alquran secara tergesa-gesa atau dengan lagu yang baik tetapi tidak memahami artinya adalah suatu indikasi bahwa si pembaca tidak memperhatikan isi ayat yang dikandung oleh ayat-ayat yang dibacanya

    5. Sesungguhnya Kami (Allah) akan menurunkan kepada engkau perkataan yang berat.

    Ayat ini menerangkan bahwa Allah akan menurunkan Alquran kepada Muhammad SAW yang di dalamnya terdapat perintah-perintah dan larangan Allah; yang merupakan beban yang berat, baik terhadap Muhammad SAW maupun terhadap pengikutnya. Beban yang berat itu tidak ada yang mau memikulnya kecuali orang yang mendapatkan petunjuk dari Allah.


    6. Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih mantap dan bacaan lebih berkesan.

    Ayat ini menegaskan bahwa ibadah yang dilakukan pada malam hari sangat mantap, baik di hati maupun di lidah sebab bacaan ayat-ayat itu lebih jelas dibandingkan pada bacaan pada siang hari di saat manusia sedang disibukkan oleh urusan-urusan penghidupan.




    7. Sesungguhnya bagi engkau pada siang hari, urusan yang panjang


    Ayat ini memerintahkan supaya Muhammad SAW dapat membedakan antara suasana melakukan ibadah pada siang hari dan pada malamnya, saat ketenangan jiwa bermunajat kepada Tuhan, menghendaki kebebasan pikiran; sedangkan kesibukan yang terdapat pada siang hari membuat perhatian Muhammad SAW tidak dapat berpusat kepada kesibukan menjalankan risalah Tuhannya.



    8. Sebutlah nama Rab (Tuhan) engkau, dan beribadahlah kepada-Nya (kepada Allah) dengan sebenar-benar ibadah.


    Dalam ayat ini Allah memerintahkan Muhammad SAW supaya senantiasa mengingat Allah, baik siang maupun malam dengan bertasbih, bertahmid, bertakbir, salat dan membaca Alquran sehingga ia dapat melenyapkan dari hatinya segala sesuatu yang melalaikan perintah-perintah Allah.

    (Sebutlah nama Rabbmu) katakanlah bismillahirrahmanirrahiim di awal bacaan Alquranmu (dan curahkanlah) kerahkanlah dirimu (untuk beribadat kepada-Nya dengan ketekunan yang penuh) lafal tabtiilan ini adalah mashdar dari lafal batula, sengaja didatangkan demi untuk memelihara fawashil, dan merupakan lafal yang berakar dari lafal tabattul.

    9. Rab (Tuhan) masyrik dan maghrib, tiada Ilah (Tuhan) melainkan Dia (Allah), maka ambillah Dia (Allah) sebagai pelindung.

    Ayat ini menerangkan bahwa Allah itu adalah pemilik timur dan barat. Tidak ada Tahan melainkan Dia. Karena itu hendaklah Muhammad menyerahkan segala urusan kepada-Nya. Dalam ayat lain yang bersamaan maksudnya terdapat firman Allah yang berbunyi:

    Artinya:
    Maka sembahlah Dia dan bertawakallah kepada-Nya.

    (Q.S. Hud: 123)

    10. Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik.

    Dalam ayat ini Allah memerintahkan kepada Muhammad SAW supaya sabar serta menahan diri menghadapi orang-orang musyrik yang melontarkan kata-kata yang tidak senonoh terhadap dirinya dan Tuhannya, karena kesabaran membawa kepada tercapainya cita-cita. Dan supaya Muhammad SAW memutuskan pergaulan dengan orang-orang yang seperti itu dengan bijaksana tanpa melontarkan cercaan terhadap mereka. Dalam ayat lain yang bersamaan maksudnya, Allah berfirman:

    Artinya:
    Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain.
    (Q.S. Al-An'am: 68)

    Artinya:
    Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari orang yang berpaling dari peringatan Kami, dan tidak mengingini kecuali kehidupan duniawi.
    (Q.S. An Najm: 29)

    Artinya:
    Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka.
    (Q.S. An Nisa': 63)

    to be continued.......

    0 ungkapan:

    .

    Labels

    Tags:
    Powered by Blogger.